IPS Kelas 7: Sejarah Lokal

Assalamu'alaikum. temen-temen kelas 7....


Kita belajar sejarah lokal atau sejarah daerah ya....

Klik ini dulu ya...



Buka juga link berikut...

YOUTUBE

Setelah menyimak video Juanda, jawab pertanyaan berikut?

1. Dari kota apakag Ir. Juanda berasal?

2. Dimana Juanda menamatkan sekolah dasar, menengah hingga pendidikan tinggi?

3. Jelaskan yang dimaksud "deklarasi juanda"

4. Sebutkan riwayat pekerjeaan Juanda? 

5. Setelah beliau wafat, tempat-tempat atau benda apa saja yang dapat mengenang Juanda?


Nah selain Juanda, kota kita juga punya pahlawan loch. Berikut pahlawan-pahlawan dari Kota Depok.


Tole Iskandar

Lahir pada tahun 1922 di Gang Kembang, Ratu Jaya, Tole Iskandar tumbuh sebagai putra sulung dari keluarga terpandang. Ayahnya, Raden Samidi Darmorahardjo, adalah seorang pegawai pemerintah di zaman Belanda. Meski memiliki latar belakang keluarga yang cukup mapan, Tole memilih jalan terjal sebagai pejuang saat api revolusi mulai membakar semangat pemuda Indonesia pasca-Proklamasi 1945.

Tole Iskandar bukanlah pejuang yang bergerak sendirian. Ia mengumpulkan pemuda-pemuda pemberani di wilayahnya dan membentuk sebuah kelompok barisan keamanan. Awalnya, barisan ini hanya beranggotakan 21 orang. Kelompok kecil inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Laskar 21 atau Kelompok 21.

Meskipun minim persenjataan, laskar ini menjadi garda terdepan dalam menghadapi tentara NICA (Belanda) yang ingin kembali berkuasa setelah Jepang menyerah. Kelompok ini nantinya melebur ke dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan Tole diangkat sebagai komandan dengan pangkat Letnan Dua.

Salah satu babak paling meentukan dalam sejarah Depok adalah peristiwa Gedoran Depok pada Oktober 1945. Di tengah kekacauan dan kemarahan massa terhadap warga Depok yang dianggap pro-Belanda, Tole Iskandar tampil sebagai sosok pemimpin yang memiliki integritas tinggi.

Ia tidak hanya menyerang musuh, tetapi juga memastikan bahwa warga sipil, perempuan, dan anak-anak dari kelompok "Belanda Depok" tidak menjadi korban kekerasan yang membabi buta. Ia menjaga tahanan di belakang kantor pemadam kebakaran dengan prinsip kemanusiaan, menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan bukan tentang kebencian etnis, melainkan tentang kedaulatan bangsa.

Perjuangan Tole Iskandar berakhir di medan laga pada 13 Juli 1947. Dalam sebuah kontak senjata yang sengit dengan tentara Belanda di perkebunan Cikasintu, Sukabumi, Tole Iskandar gugur dalam tugas. Ia wafat pada usia yang sangat muda, yakni 25 tahun.

Jasad sang pahlawan kini beristirahat dengan tenang di Taman Makam Pahlawan Dreded, Bogor. Namun, semangatnya tetap hidup di setiap jengkal tanah Kota Depok.

 

Margonda

Lahir pada tahun 1918 dengan nama asli Margana, ia tumbuh besar di Jalan Ardio, Bogor. Margonda bukanlah sosok sembarangan; ia adalah seorang pemuda terpelajar. Ia menempuh pendidikan sebagai analis kimia di Balai Penyelidikan Kimia Bogor dan sempat mengikuti pelatihan penerbang cadangan pada masa akhir pemerintahan Hindia Belanda.



Keahlian intelektualnya tidak membuatnya duduk diam saat proklamasi dikumandangkan. Margonda aktif dalam gerakan kepemudaan dan mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) di Bogor.

Pada Oktober 1945, pecah peristiwa yang dikenal sebagai Gedoran Depok. Saat itu, wilayah Depok yang merupakan komunitas otonom bentukan Belanda masih enggan mengakui kemerdekaan Indonesia. Hal ini memicu ketegangan besar antara laskar pejuang dan pasukan NICA (Belanda) yang dibantu tentara Sekutu.

Margonda bersama pasukannya bergerak dari Bogor menuju Depok untuk bergabung dengan Batalyon I. Bersama tokoh-tokoh seperti Tole Iskandar, mereka bahu-membahu menyusun strategi untuk merebut kembali wilayah Depok yang strategis sebagai pintu masuk menuju Jakarta.

Puncak perjuangan Margonda terjadi pada 16 November 1945. Dalam sebuah operasi penyerangan kilat ke markas Inggris dan NICA, pasukan Margonda terjebak dalam pertempuran sengit di wilayah Kalibata (sebuah area di perbatasan Kukusan dan Sawangan, Depok—bukan Kalibata di Jakarta Selatan).

Kisah gugurnya Margonda sangatlah dramatis sekaligus memilukan. Saat hendak melemparkan granat ke arah musuh, peluru lawan lebih dulu menerjang dadanya. Granat yang sudah ditarik pinnya tersebut meledak di genggamannya saat ia rebah, menghancurkan tubuh sang pejuang di usia yang baru menginjak 27 tahun.

Nama Margonda mulai diusulkan sebagai nama jalan pada tahun 1970-an oleh rekan-rekan seperjuangannya. Sebelum bernama Margonda Raya, jalan tersebut hanyalah sebuah jalan setapak berbatu yang dikenal sebagai Jalan Pintu Air.

Kini, Jalan Margonda telah bertransformasi menjadi jalan protokol sepanjang kurang lebih 4 kilometer yang tidak pernah tidur.

 

Muchtar

Muchtar merupakan anggota dari Batalyon I yang legendaris. Ia adalah tangan kanan para komandan besar di wilayah Bogor-Depok. Dengan pangkat Sersan Mayor (Serma), ia memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan koordinasi antara pasukan reguler dengan rakyat sipil tetap terjaga.

Ia bukan hanya seorang penembak jitu atau ahli strategi, tetapi juga seorang komunikator yang mampu membakar semangat para petani dan pemuda di perbatasan Depok untuk ikut serta mengamankan wilayah dari patroli Belanda.

Salah satu kontribusi terbesar Muchtar adalah penguasaan medan di sepanjang jalur kereta api Jakarta-Bogor. Pada masa itu, stasiun-stasiun di wilayah Depok dan sekitarnya adalah urat nadi logistik Belanda.

Muchtar sering memimpin unit kecil untuk melakukan sabotase, memutus jalur komunikasi, hingga menyergap iring-iringan truk musuh yang melintas di jalan-jalan setapak yang kini kita kenal sebagai wilayah padat penduduk di Depok dan Cibinong. Keberaniannya muncul dari kemampuan adaptasi yang luar biasa terhadap medan perang yang berupa perkebunan karet dan rawa-rawa.

Perjuangan Muchtar berakhir dalam sebuah pertempuran sengit saat ia mencoba menahan laju pasukan Belanda yang melakukan agresi ke wilayah pedalaman. Ia gugur sebagai pahlawan yang memegang teguh sumpahnya untuk tidak membiarkan satu inci pun tanah air diduduki kembali tanpa perlawanan.

Meski jasadnya kini beristirahat di Taman Makam Pahlawan, semangatnya tetap "berpatroli" di ingatan masyarakat lokal melalui nama jalan yang disematkan kepadanya.

Nama Muchtar diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Sawangan, Depok (Jalan Raya Muchtar). Pemberian nama ini bukan tanpa alasan; wilayah Sawangan dan sekitarnya dulu merupakan basis gerilya dan jalur pelarian serta pertahanan yang sangat krusial bagi para pejuang.

 

 Setelah kalian membacanya, boleh mengerjakan ini ya....


https://wayground.com/join?gc=17235361&source=liveDashboard