Assalamu'alaikum. temen-temen kelas 7....
Kita belajar sejarah lokal atau sejarah daerah ya....
Klik ini dulu ya...
Buka juga link berikut...
Setelah menyimak video Juanda, jawab pertanyaan berikut?
1. Dari kota apakag Ir. Juanda berasal?
2. Dimana Juanda menamatkan sekolah dasar, menengah hingga pendidikan tinggi?
3. Jelaskan yang dimaksud "deklarasi juanda"
4. Sebutkan riwayat pekerjeaan Juanda?
5. Setelah beliau wafat, tempat-tempat atau benda apa saja yang dapat mengenang Juanda?
Nah selain Juanda, kota kita juga punya pahlawan loch. Berikut pahlawan-pahlawan dari Kota Depok.
Tole
Iskandar
Lahir pada tahun 1922 di Gang Kembang, Ratu Jaya,
Tole Iskandar tumbuh sebagai putra sulung dari keluarga terpandang. Ayahnya,
Raden Samidi Darmorahardjo, adalah seorang pegawai pemerintah di zaman Belanda.
Meski memiliki latar belakang keluarga yang cukup mapan, Tole memilih jalan
terjal sebagai pejuang saat api revolusi mulai membakar semangat pemuda
Indonesia pasca-Proklamasi 1945.
Tole Iskandar bukanlah pejuang yang bergerak
sendirian. Ia mengumpulkan pemuda-pemuda pemberani di wilayahnya dan membentuk
sebuah kelompok barisan keamanan. Awalnya, barisan ini hanya beranggotakan 21
orang. Kelompok kecil inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Laskar
21 atau Kelompok 21.
Meskipun minim persenjataan, laskar ini menjadi
garda terdepan dalam menghadapi tentara NICA (Belanda) yang ingin kembali
berkuasa setelah Jepang menyerah. Kelompok ini nantinya melebur ke dalam
Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan Tole diangkat sebagai komandan dengan
pangkat Letnan Dua.
Salah satu babak paling meentukan dalam sejarah
Depok adalah peristiwa Gedoran Depok pada Oktober 1945. Di tengah
kekacauan dan kemarahan massa terhadap warga Depok yang dianggap pro-Belanda,
Tole Iskandar tampil sebagai sosok pemimpin yang memiliki integritas tinggi.
Ia tidak hanya menyerang musuh, tetapi juga
memastikan bahwa warga sipil, perempuan, dan anak-anak dari kelompok
"Belanda Depok" tidak menjadi korban kekerasan yang membabi buta. Ia
menjaga tahanan di belakang kantor pemadam kebakaran dengan prinsip
kemanusiaan, menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan bukan tentang kebencian
etnis, melainkan tentang kedaulatan bangsa.
Perjuangan Tole Iskandar berakhir di medan laga
pada 13 Juli 1947. Dalam sebuah kontak senjata yang sengit dengan
tentara Belanda di perkebunan Cikasintu, Sukabumi, Tole Iskandar gugur dalam
tugas. Ia wafat pada usia yang sangat muda, yakni 25 tahun.
Jasad sang pahlawan kini beristirahat dengan tenang
di Taman Makam Pahlawan Dreded, Bogor. Namun, semangatnya tetap hidup di setiap
jengkal tanah Kota Depok.
Margonda
Lahir
pada tahun 1918 dengan nama asli Margana, ia tumbuh besar di Jalan
Ardio, Bogor. Margonda bukanlah sosok sembarangan; ia adalah seorang pemuda
terpelajar. Ia menempuh pendidikan sebagai analis kimia di Balai
Penyelidikan Kimia Bogor dan sempat mengikuti pelatihan penerbang cadangan
pada masa akhir pemerintahan Hindia Belanda.
Keahlian
intelektualnya tidak membuatnya duduk diam saat proklamasi dikumandangkan.
Margonda aktif dalam gerakan kepemudaan dan mendirikan Angkatan Muda
Republik Indonesia (AMRI) di Bogor.
Pada
Oktober 1945, pecah peristiwa yang dikenal sebagai Gedoran Depok. Saat
itu, wilayah Depok yang merupakan komunitas otonom bentukan Belanda masih
enggan mengakui kemerdekaan Indonesia. Hal ini memicu ketegangan besar antara
laskar pejuang dan pasukan NICA (Belanda) yang dibantu tentara Sekutu.
Margonda
bersama pasukannya bergerak dari Bogor menuju Depok untuk bergabung dengan
Batalyon I. Bersama tokoh-tokoh seperti Tole Iskandar, mereka bahu-membahu
menyusun strategi untuk merebut kembali wilayah Depok yang strategis sebagai
pintu masuk menuju Jakarta.
Puncak
perjuangan Margonda terjadi pada 16 November 1945. Dalam sebuah operasi
penyerangan kilat ke markas Inggris dan NICA, pasukan Margonda terjebak dalam
pertempuran sengit di wilayah Kalibata (sebuah area di perbatasan
Kukusan dan Sawangan, Depok—bukan Kalibata di Jakarta Selatan).
Kisah
gugurnya Margonda sangatlah dramatis sekaligus memilukan. Saat hendak
melemparkan granat ke arah musuh, peluru lawan lebih dulu menerjang dadanya.
Granat yang sudah ditarik pinnya tersebut meledak di genggamannya saat ia
rebah, menghancurkan tubuh sang pejuang di usia yang baru menginjak 27 tahun.
Nama
Margonda mulai diusulkan sebagai nama jalan pada tahun 1970-an oleh rekan-rekan
seperjuangannya. Sebelum bernama Margonda Raya, jalan tersebut hanyalah sebuah
jalan setapak berbatu yang dikenal sebagai Jalan Pintu Air.
Kini,
Jalan Margonda telah bertransformasi menjadi jalan protokol sepanjang kurang
lebih 4 kilometer yang tidak pernah tidur.
Muchtar
Muchtar
merupakan anggota dari Batalyon I yang legendaris. Ia adalah tangan kanan para
komandan besar di wilayah Bogor-Depok. Dengan pangkat Sersan Mayor (Serma), ia
memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan koordinasi antara pasukan reguler
dengan rakyat sipil tetap terjaga.
Ia
bukan hanya seorang penembak jitu atau ahli strategi, tetapi juga seorang
komunikator yang mampu membakar semangat para petani dan pemuda di perbatasan
Depok untuk ikut serta mengamankan wilayah dari patroli Belanda.
Salah
satu kontribusi terbesar Muchtar adalah penguasaan medan di sepanjang jalur
kereta api Jakarta-Bogor. Pada masa itu, stasiun-stasiun di wilayah Depok dan
sekitarnya adalah urat nadi logistik Belanda.
Muchtar
sering memimpin unit kecil untuk melakukan sabotase, memutus jalur komunikasi,
hingga menyergap iring-iringan truk musuh yang melintas di jalan-jalan setapak
yang kini kita kenal sebagai wilayah padat penduduk di Depok dan Cibinong.
Keberaniannya muncul dari kemampuan adaptasi yang luar biasa terhadap medan
perang yang berupa perkebunan karet dan rawa-rawa.
Perjuangan
Muchtar berakhir dalam sebuah pertempuran sengit saat ia mencoba menahan laju
pasukan Belanda yang melakukan agresi ke wilayah pedalaman. Ia gugur sebagai
pahlawan yang memegang teguh sumpahnya untuk tidak membiarkan satu inci pun
tanah air diduduki kembali tanpa perlawanan.
Meski
jasadnya kini beristirahat di Taman Makam Pahlawan, semangatnya tetap
"berpatroli" di ingatan masyarakat lokal melalui nama jalan yang
disematkan kepadanya.
Nama
Muchtar diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Sawangan, Depok (Jalan
Raya Muchtar). Pemberian nama ini bukan tanpa alasan; wilayah Sawangan dan
sekitarnya dulu merupakan basis gerilya dan jalur pelarian serta pertahanan
yang sangat krusial bagi para pejuang.
Setelah kalian membacanya, boleh mengerjakan ini ya....
https://wayground.com/join?gc=17235361&source=liveDashboard